Follow my Instagram, Click Here
Open
X

Press.

GLOBE ASIA

Volume 7 Number 10

cover_globe

globe_page

 

SWA

Edisi no. xxviii 5 – 18 January 2012

cover_swa

page_swa

 

SWA

Edisi no. XXVII 28 April – 11 Mei 2011

swa_cover

Sehebat apapun pendidikan yang diperoleh dari perguruan tinggi tak akan mampu 100% menjawab kebutuhan dalam dunia kerja. Diperlukan seni tersendiri dalam mengoptimalkan kompetensi serta menambal kekurangan ilmu dari bangku sekolah. Bagaimana caranya?

Handi Kurniawan: Kemauan Belajar, Sumber Karir Cemerlang
(SWA: Eddy Dwinanto Iskandar & Sujatmaka)

Handi Kurniawan adalah contoh sukses sarjana yang bukan berasal dari universitas papan atas di negeri ini. Berbekal keuletan dan strategi pengembangan diri yang memadai, ia mampu meroketkan karirnya diberbagai perusahaan multinasional. Bayangkan, di usia 28 tahun, Handi sukses meraih posisi vice president di sebuah bank asing di luar negeri.

Almamaternya, Universitas Atma Jaya Yogyakarta tempat Handi menuntut ilmu ekonomi akuntansi, bukanlah universitas yang masuk peringkat 5 besar di negeri ini. Toh, belakangan status kampus menjadi tidak relevan jika melirik catatan prestasi Handi. Lihat saja, selama 11 tahun berkarir, ia selalu bekerja di perusahaan multinasional besar, sebuh saja General Electric, Citibank dan Standard Chartered Bank. Dan tak hanya di Indonesia, Handi kerap dirotasi ke 13 negara di kawasan Asia dan Amerika Serikat.

Memang, semangat Handi untuk terus menambal kekurangan dirinya dengan berbagai pelatihan dan rasa rendah hati untuk terus berguru ke berbagai pihak membuatnya sukses menggapai karir cemerlang. Sebagai contoh, dulu di Sabtu dan Minggu ia mengikuti kelas MBA dari University of Western Australia. Ia juga berhasil mendapatkan beasiswa post-graduate diploma scholarship di East West Knowledge Management Program yang kelasnya diadakan di Japan America Institute of Management Science, di Hawaii, AS dan mendapatkan berbagai penghargaan utama. Handi juga tak ragu menantang dirinya mengikuti leadership fast track program GE-Financial Management Program dan bersaing dengan rekan sejawatnya dari berbagai universitas top dari dalam dan luar negeri.

Setelah lulus kuliah, pria kelahiran Tegal, 28 Desember 1978, ini kembali berjodoh dengan GE. Setelah bergabung lima tahun di GE dan sempat merasakan beragam unit bisnis GE seperti GE Lighting, GE Medical System dan GE Capital, dirinya menyeberang ke Citibank dibagian yang sama, yaitu perencanaan bisnis dan analisis. Namun, baru setahun pindah karir, ia tak kuasa menolak pinangan selanjutnya dari Standard Chartered Bank (SCB) untuk bergabung di bagian pengembangan bisnis. ”Saya belajar sesuatu hal yang baru, yaitu strategy, marketing dan networking,” Handi memaparkan alasan kepindahannya.

Setelah bergabung dengan SCB, Handi merasa beruntung karena SCB memberikan kesempatan untuk pindah bagian dan berkembang. ”Yang terpenting, I play with my strengths and follow my passion,” ujar pehobi jogging, berenang, membaca buku dan menonton film itu. Dan sejak pertengahan tahun lalu, tanggung jawabnya diperluas sebagai Regional Head Vice President Learning & Talent Development SCB untuk kawasan Malaysia, Brunei dan Mekong di Kuala Lumpur. Ia juga terlibat aktif dalam inisiatif strategis SCB di Asia.

Meski sukses berkarir, ia menyadari tetap ada kekosongan pengetahuan di dunia kerja yang tidak bisa dipenuhi dari pendidikan formal. ”Saya mengisi kekosongan ini dengan menerapkan 70-20-10 development framework principle dan juga Technical-Professional-Leadership skills,” Handi memaparkan kunci pengembangan dirinya. Maksudnya, 70% kekurangan ilmu dari bangku pendidikan formal diisi dari on-the-job learning. Sambil bekerja, ia belajar melalui kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Dua puluh persen dari hasil belajar dari berbagai pihak. Dan 10% diisi kembali melalui pendidikan dan pelatihan formal. Selain itu, ia juga banyak belajar dari buku-buku yang umumnya berbahasa Inggris.

Handi memaparkan, dalam bekerja di perusahaan, karyawan patut menguasai bidangnya dan memiliki uraian pekerjaan (job description) yang jelas. ”Nah, karena hanya kita yang tahu sebenarnya kemampuan kita ada di mana, ada tiga area pembelajar yang dapat kita tingkatkan yang disebut area TPL, technical, professional dan leadership,” ujar suami Irene Widjajanti, seorang bankir di bidang manajemen risiko, itu.

Teknis, misalnya, mengambil kelas keuangan agar paham atau mampu membaca laporan keuangan. Meningkatkan kualitas profesional dengan meningkatkan kemampuan negosiasi atau presentasi. Dan, memoles area kepemimpinan didapat dengan meningkatkan kemampuan bekerja sama atau memimpin orang.

Dirinya juga mengakui soft skills sangat penting dipelajari. ”Harus ada balance EQ-IQ-soft skills-hard skills,” katanya. Menurut Handi soft skills yang esensial untuk dikuasai adalah stakeholders management, yaitu mengelola pelanggan dan rekan kerja, termasuk para bos; communication skills; execution skills, how to get the jobs done, baik oleh diri sendiri maupun melalui orang lain; negotiation skills; decision making skills; persuasion skills; dan banyak hal lain. ”Leadership is a complex role, tetapi hampir semua dapat diasah atau dipelajari asal kita selalu terbuka dan mau belajar,” Handi memberi saran.

Bagi para mahasiswa yang hendak lulus dan ingin memasuki dunia profesional, Handi menyarankan untuk mempelajari interviewing skills, effective presentation skills, atitute skills dan subject-practical content atau mempelajari penerapan suatu ilmu.

Dan, agar sukses membangun karir, Handi menyarankan untuk mengenali kekuatan diri sendiri, memahami nilai-nilai yang paling penting bagi diri sendiri, dan mengejar passion pribadi. Selain itu, jangan cepat menyerah dan jangan takut bersaing. Setiap orang yang mau maju juga dituntut memiliki tujuan yang jelas dan progresif serta menggunakan people management dan jejaring. Namun di antara semua itu, tetap yang terpenting adalah ”Kita wajib memiliki pola pikir bahwa kita bisa sukses!” kata Handi menandaskan.

(Source: Majalah SWA edisi no. 09/XXVII/28 April – 11 Mei 2011, hal. 94-96)

 

The STAR.com – Malaysia

Developing New Talents

THE Standard Chartered Bank is committed to developing new talents and skills, Human Resources head (Malaysia, Brunei and Mekong Region) Rahmat R. Hashim said.

Rahmat said the bank believed in developing and cultivating people, and one way was through giving back to the community.

“It is a challenge to find graduates with good communication skills and the right attitude. They have to sell themselves when they come for interviews,” he said.

Rahmat said this after presenting the sponsorship of RM15,000 for The Star Education Fair’s Spin N Win contest recently.

hk-thestarcom
Here you go: Rahmat (second from left) handing the cheque to Star Publications (M) Bhd circulation manager Jeffrey Tan. Looking on are Standard Chartered bank head of LTD Malaysia, Brunei, Mekong Region Handi Kurniawan (left) and Star Publications senior executive of corporate sponsorships Alvin Liew.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>